Mbah Surip - Kaya Mendadak, Meninggal Mendadak
Malaikat maut sibuk hari ini. Pagi tadi tabrakan kereta Ekspres Pakuan di Bogor, sebelumnya Merpati jatuh di Papua. Siang tadi Mbah Surip meninggal dunia. Jauh sebelum dia ngetop, Bob Marley Indonesia ini berseliweran di berbagai acara. Saya paling sering melihatnya di Kenduri Cinta Emha Ainun Nadjib di Taman Ismail Marzuki.
Sekalinya manggung untuk acara Kenduri Cinta, gitar bolongnya putus senar. Tawanya menguar ketika anak band lain meminjaminya gitar listrik. ”Ha..ha…ha…Cakep tho gitarnya, kayak saya…ha…ha…ha…..” Kami pun hanya tersenyum simpul.
Bukan Tak Gendong yang dinyanyikannya. Balonku. Itu hanya segelintir lagu yang pernah dibuatnya. Katanya jumlahnya 200 an. Ijo Royo-royo, Siti Maelan, Indonesia Satu, Bonek, Barang Baru dan Bangun Tidur, merupakan karya ciptaannya. Dibuat ketika ia menggelandang dari satu tempat ke tempat lainnya. Bulungan di Jakarta Selatan, Taman Ismail Marzuki (TIM) dan Pasar Seni Ancol adalah daerah jelajahnya.
Dulu sekali, hidupnya tergantung dengan hasil ngamen dan siapa saja yang ada di dekatnya. Tapi Tak Gendong yang jadi Ring Back Tone (RBT) membuatnya tak lagi perlu menggelandang. Mbah Surip atau jadi pengamen elit. Siang di TV anu, sore di Bali, malam pulang ke Jakarta lagi.
Bhumy, anakku, ketawa ngakak ketika presenter TV menayangkan Mbah Surip yang dibonceng motor kemana-mana oleh asistennya. Jutawan baru ini memang boncengers sejati. Mbonceng motor kemana-mana. Rambut gimbalnya pun hanya ditutup dengan helm ala kadarnya. ”Tidak ada helm yang muat,” ujar Mbah Surip. ”Mosok disebut boncengers, Bunda” tanya Bhumy. Ia heran dengan istilah presenter TV itu. Anakku baru lima tahun.
Urip Ariyanto nama aslinya. Ia mendadak ngetop di bulan Mei lalu. Ketika lagu Tak Gendong laris manis bak kacang. Status di Facebook pun banyak mencupliknya. Di hari kematiannya, lagi-lagi Mbah Surip merajai Twitter. Setiap detik microblogging ini direfresh, jumlahnya makin banyak tentang Mbah Surip.
Meski dandan ala Bob Marley, Mbah Surip mengaku tak tahu kalau musiknya digolongkan dalam genre tersebut. Meski begitu ia pernah berpesan, “Reggae itu kan musik perdamaian, jadi damai terus.”
Tak Gendong ditengarai jiplakan mirip lirik Raunchy by Billy Vaughn and his Orchestra. Sekilas memang ada kemiripan. Tapi tak tahulah mana yang benar.
Ayah empat anak dan kakek empat cucu yang lahir di ”Jerman” alias Jejer Kauman, Magersari, Mojokerto, Jawa Timur. Mbah Surip tertutup soal keluarga. Ia pun tak mempermasalahkan kekayaan yang dimilikinya kini.
Kemarin, Mbah Surip masih punya keinginan untuk duet dengan Manohara. Lagunya sudah disiapkan. Judulnya Thank You very Much. Bukan karena Mano sedang ngetop, tapi menurut Mbah Surip, suara Mano reagge sekali. Aku tidak tahu apa maksudnya.
Hadirnya Mbah Surip jadi fenomena tersendiri. Di tengah dunia hiburan yang serba bling-bling, Mbah Surip tampil apa adanya. Tak risih naik bonceng motor kemana-mana. Jadi penyanyi tidak perlu nyogok kanan kiri atau tidur dengan produsernya. Tak perlu baju mewah dan mobil terbaru. Buatku, ia proletar.
Kaya mendadak, matipun mendadak. Mungkin benar kata Chairil Anwar, hidup sekali sesudah itu mati. Ah, lelaki itu membuatku tersenyum. Mbah, siapa yang nggendong kamu ke surga?
In memorium of Mbah Surip. I love you full, Mbah.
Emmy Kuswandari, 4 Agustus 2009, Jakarta






















